Kamis, 12 Februari 2009






Christian Mara: Pelestari Gong Kalbar yang Diminati Negara Tetangga

TAK banyak pekerja seni di Kalimantan Barat yang mempunyai keahlian khusus membuat gong. Christian Mara, salah satunya. Kemasyhuran gong karya pria kelahiran Desa Resak, Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau ini hingga terdengar ke negeri tetangga. Bahkan oleh Thailand, Christian Mara ingin ’dibajak’ untuk menunjang salah satu ikon pariwisata negeri Gajah Putih ini yakni Pantai Phuket.


SUARA benturan logam itu terdengar hingga beberapa meter jauhnya. Masih berbunyi cempreng. Belum menggelegar. Di perkarangan rumahnya yang terletak di Gang Ringin Sari I Jalan Arteri Supadio Kabupaten Kubu Raya itulah menjadi ‘pabrik’ pembuatan gong Christian Mara.

Hari itu, Kamis (10/4), pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas V SD ini sedang membuat gong pesanan salah satu sanggar kesenian di Batang Tarang. Ia hanya bekerja sendiri. Tangannya terampil memalu logam kalvanis.

Sambil memalu, indra pendengaran Mara juga ikut bermain. Menangkap setiap getaran bunyi yang keluar dari logam itu. Ia berkonsentrasi mencari nada. Gelombang suara itu akan diolahnya. Hingga membentuk suara yang menggelegar. Suara itulah kelak yang diinginkannya.

”Ini pesanan sanggar kesenian dari Batang Tarang. Mereka minta buatkan gong bobonih/boneh. Gong ini suaranya terbuka. Menggelegar seperti guntur,” kata Mara.

Kesendirian Mara dalam membuat gong bukannya tidak beralasan. Ia mengaku kesulitan mencari tenaga terampil. Butuh orang-orang yang juga pandai mencari suara, peka terhadap bebunyian, dan mahir dalam merasakan getaran. Menurutnya, keahlian khusus itulah yang diperlukan bagi pembuat gong.

Menjadi bisa, bukan berarti harus belajar secara khusus. Mara contohnya. Keahlian membuat gong didapatkannya dengan jalan otodidak. Mencoba dan mencoba. Tidak patah arang ketika gagal dalam mencoba. ”Tidak ada belajar secara khusus,” katanya.

Ada beberapa bagian yang menurut Mara mempunyai kesulitan yang berbeda saat membuat gong. Bagian-bagian itulah yang akan membuat suara alat musik itu menjadi bergema.

Bagian cekung dari gong itu disebut gelombang suara. Sedangkan di sisi gong yang menjadi bingkai alat musik itu bertugas sebagai tabung suara. Sementara bagian bulat menonjol, yang menjadi sasaran pukulan, disebut sebagai pelempar suara. Bagian lainnya, yang terletak di antara pelempar dan gelombang suara bertugas untuk menyimpan suara.

Untuk mencari nada yang diinginkan dari gong, bagian-bagian itulah yang dimodifikasi Mara. Insting, pengalaman, diramu bakatlah yang mengelolanya.



Campuran intan


Menurut Mara, gong yang biasa dimainkan oleh masyarakat Dayak atau Melayu di Kalbar, pada umumnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok. ”Untuk suara umumnya menggunakan gong dengan bunyi menggelegar. Lain dengan gong dari Jawa. Bunyinya tidak terlalu menggelar,” terangnya.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak, gong banyak menyimpan arti. Gong menjadi salah satu bagian untuk mencipta musik yang menjadi sarana penyampaian maksud-maksud serta puja dan puji kepada yang berkuasa, baik terhadap roh-roh maupun manusia biasa. Selain itu gong juga digunakan untuk mengiringi bermacam-macam tarian adat maupun upacara ritual.

Gong Boneh misalnya. Kata Mara, alat musik ini juga digunakan dalam upacara adat Notongk, upacara penghormatan terhadap abak (tengkorak manusia) yang ada pada masa mengayau/bekayau atau ngayau/kayau. “Gong ini suaranya neriu. Tiga dimensi, pengantar, dalam, dan gema. Suaranya tegas. Jika dibunyikan di kampung, jarak tiga jam kita berjalan, suaranya masih kedengaran,” ujarnya.

Jenis gong lainnya yang terkenal yakni gong tama’. Menurut Mara, gong tama’ Kalbar peninggalan zaman nenek moyang, kini diburu oleh beberapa museum dari negeri Malaysia dan Hongkong dengan kisaran harga ratusan juta rupiah. Mengapa gong tersebut begitu beharganya?

“Di bagian tempat penyimpan suara itu ada emasnya. Sedangkan di bagian pelempar suara, ada campuran intan. Masyarakat Dayak pedalaman Kalbar masih ada yang menyimpan gong ini,” katanya.

Ada sejarah mengiringi keberadaan gong ini. Mara bercerita, dahulu kala gong ini digunakan oleh masyarakat Dayak untuk upacara ritual bagi pasangan yang ingin memiliki keturunan.

Pembuat Sape’

Naiknya harga besi ikut memengaruhi kreasi Christian Mara dalam penciptaan gong. “Saya juga terbentur modal,” akunya. Menurut Christian, selain dari logam kalvanis, bahan lainnya yang sangat bagus untuk membuat alat musik pukul tersebut yakni dari tembaga merah. “Harganya sangat mahal dan bahannya susah didapat. Tapi gong dari logam ini suaranya sangat bagus,” katanya.

Satu buah gong dengan ukuran sekitar satu meter, Christian bisa menghabiskan waktu selama seminggu untuk menciptakannya. Ia biasanya menjual alat musik ini per set. Satu setnya dia tawarkan dengan harga Rp9,5 juta.


Satu set alat musik tersebut juga diantaranya terdiri dari kenong, ketobong, sape’, dan sangsarut. Konsumennya banyak dari sanggar-sanggar kesenian di Kalbar hingga Pulau Jawa. “Bahkan dari Keraton Solo juga ada yang mesan dengan saya,” katanya.

Suami dari Mega dan ayah dari David Fernandes dan Kinsan Sures ini termasuk piawai dalam membuat alat musik tradisional lainnya. Ia pandai membuat beduk dan jago membuat sape’.

Khusus untuk sape’, sejenis gitar dengan dawai berjumlah 3 atau 4 yang biasanya diberi hiasan atau ukiran khas suku Dayak, Mara sudah terlatih membuatnya jauh sebelum dia mengenal cara membikin gong. “Kalau gong saya mulai membuatnya tahun 90-an, tapi kalau sape’ dari saya kecil sudah bisa membuatnya walau masih dalam bentuk aneh,” katanya.

Christian Mara juga merupakan penari tradisional Dayak, pembuat musik tradisional sekaligus memainkannya, pencipta lagu dan penyanyi yang tergabung dalam Sanggar Bengkawan.

Mengajar di Sibu

Keahliannya dalam kesenian tradisional ini mengantarkannya menjadi pelatih musik di Sanggar Sri Kelayang, Sibu, Malaysia selama dua tahun. Saat merantau ke negeri seberang itu, Mara lebih fokus pada kesenian Melayu. Bahkan dia mengajar murid-murid Malaysia, dari sekolah ke sekolah untuk belajar kesenian tradisional itu.

Di sana, dia banyak berteman dengan orang-orang yang secara khusus berkecimpung di dunia seni. Akademisi yang bergelar profesor seni pun menjadi sahabat karibnya. Penghargaan akan kesenian tradisional dan mempertahankan khasanah budaya bangsa begitu diperhatikan oleh pemerintah negara tetangga.

Secara khusus, dia juga menerima tawaran dari salah satu universitas kesenian di Thailand. “Mereka minta saya membikin alat musik tradisional sekaligus mendemontrasikannya di Pantai Phuket Thailand. Saya diharuskan membikin alat musik di sana dan disediakan tempat. Itu salah satu cara untuk memikat wisatawan. Tawaran itu tidak langsung saya iyakan karena akan tinggal di sana dalam jangka waktu lama,” katanya.

Menularkan ke generasi muda

Bersama rekan-rekan pekerja dan peminat seni budaya Kalbar lainnya, Christia Mara juga bergabung dalam wadah Majelis Budaya dan Seni Tradisi Terapan (Madyastrad) Kalbar pimpinan Mul’am Husairi.

Wadah ini membawa misi. Menggali tradisi budaya dan kesenian apa saja yang ada di Kalbar. Sasaran utama lembaga ini adalah melakukan pendidikan budaya dan seni tradisional Kalbar pada generasi muda. “Kita ingin agar generasi muda mengenal kebudayaannya. Mudah-mudahan ada respon dari pemerintah kita,” katanya.

Mengutip pernyataan Mul’am Husairi saat konfrensi pers pembentukan Madyastrad Kalbar pada awal Maret lalu di Hotel Santika, “Anak-anak muda kita kenal dengan alat-alat band saja, mungkin tak terlalu banyak yang bisa bermain sape’. Nah, harus ada peran semua pihak agar generasi muda kita juga tidak lupa dengan alat musik tradisional daerah kita.” (**)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar